Minggu, 20 Desember 2015

RI Masih Butuh Subsidi Pertanian, Cukup Ubah Skemanya


Penyaluran melalui kartu tani bisa menjadi upaya pengawasan yang paling efektif karena siapapun bisa mengontrol penggunaannya.

Read More : RI Masih Butuh Subsidi Pertanian, Cukup Ubah Skemanya.



Kamis, 17 Desember 2015

Tingkatkan Daya Saing BPD, Ini Saran OJK


INILAHCOM, Jakarta - Perkembangan Bank Pembangunan Daerah (BPD) terkesan jalan di tempat. Perlu transformasi supaya BPD bisa bersaing di kancah domestik bahkan nasional.

Sukarela Batunanggar, Direktur Stabilitas Sistem Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, transformasi BPD agar berkembang meliputi beberapa hal.

Pertama, kata Sukarela, BPD harus lebih kompetitif supaya memiliki daya saing. Selain itu, BPD harus mampu meningkatkan ketahanan dalam menjaga suistanabilitas dalam menghadapi risiko krisis serta ancaman yang terjadi. "BPD harus lebih kompetitif supaya bisa bersaing,"ungkap Sukarela di Jakarta, Kamis (17/12/2015).

Dengan begitu, kata Sukarela, BPD dapat meningkatkan kontribusinya. Dengan fokus kepada shareholder maximization maka bank tidak hanya mencari keuntungan, namun juga bisa menjalankan fungsi sosialnya. "Ini menjadi BPD menjadi sangat tepat dan relevan untuk dijalankan," ungkap Sukarela.

Kata Sukarela, dalam menjalankan peran sosial di BPD, perlu adanya keselarasan antara bisnis dan risiko. "Keselarasan dapat dicapai dengan melakukan pendekatan energi, bukan bank to bank basis sehingga ada kolaborasi dan sinergi," papar Sukarela. [ipe]

#OJK #MuliamanHadad #PasarModal #Keuangan #BEI #bank #SYARIAH #Halal #proyek #news #jalantol #project #laut #ikan #bank #KKP #Indonesia #Kredit #Gerindra #PresidenJokowi #jokowi #JKW4P #Prabowo #SBY



Read More : Tingkatkan Daya Saing BPD, Ini Saran OJK.



Rabu, 16 Desember 2015

Senin, 14 Desember 2015

Bank Dunia Ingatkan Indonesia Negara Paling Timpang di Asia


JAKARTA - Bank Dunia (World Bank) kembali mengingatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki tingkat ketimpangan paling besar di Asia. Hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah agar ketimpangan tidak semakin melebar.Country Director Bank Dunia Rodrigo Chaves mengungkapkan, ketimpangan yang...

 

Read More



Read More : Bank Dunia Ingatkan Indonesia Negara Paling Timpang di Asia.



Senin, 07 Desember 2015

Pertumbuhan PDB Perikanan Lampaui Target


Tahun ini Menteri Susi menargetkan pertumbuhan PDB perikanan sebesar 7%, sedangkan hingga kuartal III sudah mencapai 8,37%

Read More : Pertumbuhan PDB Perikanan Lampaui Target.



Minggu, 06 Desember 2015

Jumat, 04 Desember 2015

SMF Catat EBA-SP di BEI Rp181,6 Miliar


INILAHCOM, Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) melakukan pencatatan perdana atas Efek Bangunan Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Itu senilai Rp181,6 miliar.

Direktur Utama SMF Raharjo Adisusanto di Jakarta, Jumat (04/12/2015) mengatakan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi yang dicatatkan itu yakni SMF-BTN 01 Kelas A yang diterbitkan oleh SMF (Persero) dengan suku bunga tetap 8,6 persen per tahun yang jatuh tempo pada 7 Maret 2022.

"Pencatatan EBA-SP SMF-BTN01 akan menjadi bagian dari pasar modal domestik. Pencatatan ini juga ini sebagai menjadi tonggak sejarah bagi SMF dalam menjalankan peran mengembangkan Pasar Pembiayaan Sekunder Perumahan (PPSP) di Indonesia," ujar Raharjo.

Ia mengemukakan bahwa SMF-BTN01 merupakan efek hasil sekuritisasi tagihan kredit pemilikan rumah (KPR) Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). SMF berperan sebagai penerbit sekaligus penata sekuritisasi pendukung kredit dan investor. Sedangkan BTN sebagai kreditur asal dan penyedia jasa. Sementara selaku wali amanat yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI).

"Instrumen EBA-SP diharapkan dapat memperkuat pasar keuangan Indonesia dan mendukung pengembangan basis investor domestik," jelas dia. Ia menambahkan hasil sekuritisasi dari tagihan KPR itu akan digunakan BTN untuk mendanai program satu juta rumah, yakni program itu membutuhkan dana jangka panjang yang besar.

Dalam rangka transparansi, ia mengatakan bahwa EBA-SP di pasar pembiayaan sekunder perumahan, PT Penilaian Harga Efek Indonesia (PHEI) sebagai lembaga pembiayaan yang melakukan penilaian dan penetapan harga pasar wajar yang diperdagangkan di pasar sekunder maupun sebagai harga acuan dalam menghitung nilai portofolio aset EBA-SP.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida menambahkan bahwa EBA-SP merupakan salah satu produk yang dapat memperdalam pasar keuangan, khususnya di pasar modal dalam negeri.

"Produk EBA-SP memperkaya jenis instrumen investasi di pasar modal. OJK akan mendorong sebanyak mungkin salah satu caranya yakni proses penyertaan pendaftarannya dalam melakukan telaah dapat lebih cepat namun masih sesuai dengan ketentuan yang berlaku," kata dia. [tar]



Read More : SMF Catat EBA-SP di BEI Rp181,6 Miliar.



Kamis, 03 Desember 2015

Natal dan Tahun Baru 2016, Garuda Siapkan 11.362 Kursi Tambahan


Garuda menyiapkan sedikitnya 11.362 kursi tambahan penerbangan domestik dan juga internasional untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama Natal 2015 dan Tahun Baru.










Read More : Natal dan Tahun Baru 2016, Garuda Siapkan 11.362 Kursi Tambahan.



Rabu, 02 Desember 2015

OJK Relaksasi Syarat Usaha Penitipan Pengelolaan Bank


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan relaksasi syarat usaha penitipan pengelolaan bank (trust) sebagai upaya mendukung kebijakan stimulus lanjutan.

Read More : OJK Relaksasi Syarat Usaha Penitipan Pengelolaan Bank.



Rupiah Ditutup Melemah Tipis


Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (UDS) pada penutupan perdagangan di sesi sore hari ini terpantau melemah tipis. 

Read More : Rupiah Ditutup Melemah Tipis.



Proyek Kereta Cepat Diumumkan Desember 2015


PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (perusahaan patungan konsorsium BUMN) menargetkan rencana peluncuran atau "soft launching" proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung pada Desember di kawasan Walini, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. 

Read More : Proyek Kereta Cepat Diumumkan Desember 2015.